Select Menu

Slider

clean-5

Total Pageviews

Hukum dan Kriminal

Travel

Performance

Cute

My Place

Slider

Racing

Videos


Sangat rendah sekali pengetahuan ataupun perspektif tulisan teman-teman wartawan yang menulis tentang Bendera Bintang Kejora adalah Simbol TPN/OPM. Sebagai Generasi Muda Anak Adat Papua; saya tidak sependapat dengan teman-teman wartawan yang menulis untuk mengelabui ataupun mempolitisasi Bendera Bintang Kejora sebagai Bendera Kebangsaan Papua Barat diatas Tanah Papua Barat.
Terlepas dari hiruk-pikuk kepentingan pemerintah Indonesia dan pernik-pernik manipulasi pembalikan Fakta Sejarah Bangsa Papua Barat, saya pikir kita tidak boleh membohongi sejarah itu, sebab sejarah itu adalah fakta kebenaran, oleh sebab itu meskipun beberapa teman-teman wartawan sudah didik di Cijantung untuk propaganda informasi media tentang situasi politik di Tanah Papua Barat, saya masih berharap bahwa sebagai wartawan seyokyanya menjaga kode etik dan independensi jurnalistik, sehingga nilai ataupun rating media juga mempertaruhkan nama besar media yang dijadikan payung pencarian dan alat penyampaian tulisan-tulisan brilian itu. Untuk hal dimaksud, maka mari kita kembali untuk bersama-sama membuka catatan sejarah keberadaan Tanah Papua Barat dan Manusia Kulit Hitam serta Rambut Keriting, sekaligus Perjuangan Mereka dalam mempertahankan Harga diri dan Martabat Bangsa Papua Barat di Mata Dunia.
Semoga kita semua mau memahami bahwa Bendera Bintang Kejora itu bukan Simbol TPN/OPM, tetapi itulah adalah Simbol Jati Diri Orang Asli Papua Ras Melanesia Kaum Bangsa Papua Barat.
Sejarah Bendera Merah Putih juga dahulu digunakan oleh Jenderal Sudirman sebagai Bendera Bangsa Indonesia, bukan Simbol Separatis Indonesia ketika itu; oleh sebab itu hal yang sama pula yang digunakan oleh Para Pejuang Bangsa Papua Barat untuk menunjukan Harga Diri dan Martabat Bangsa Papua Barat dalam memperjuangkan Penentuan Nasib Bangsa Itu Untuk sebuah Kebebasan Absolut tanpa ada politisasi,intimidasi,teror,pembunuhan,penyiksaan,penganiayaan,penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, pemerkosaan, dan pembunuhan kilat serta penculikan dan penghilangan Orang Asli Papua Barat.
Hari ini di tahun 2012 ini, sudah bukan barang unik atau luar biasa lagi, tetapi itu adalah hal yang biasa; sebab dengan Bendera Bintang Kejora sudah terlalu banyak korban berguguran. Nah dengan demikian maka, tidakkah kita menulis dan menyampaikan berita bukan dengan membohongi keindependensian jurnalis dalam menjalankan tugas peliputan serta pemberitaan.
Rakyat sudah tidak bisa dibohongi lagi, teman-teman media boleh memutarbalikan temuan lapangan kasus-kasus Korupsi dan lainnya, tetapi khusus untuk Sejarah Bangsa Papua Barat, sudah tidak bisa dibohongi terus menerus, sebab kejujuran pena seorang wartawan adalah tajamnya pedang penyayat kalbu para Pemimpin Bangsa Indonesia yang terlampau leluasa melakukan kejahatan kemanusiaan luar biasa dalam cermin KORUPSI.
Akhirnya sejarah itu akan muncul dengan Kebenarannya tanpa seorangpun akan mampu menyalahkan dan mengalahkannya; Hidup Merah Putih….Sukses Bintang Kejora…..sama-sama Bendera Kebangsaan Masing-masing Suku Bangsa yang ada di Negara Nusantara ini.

Sumber ; www.kompasiana.com/dowakumba Dorus Papua Wakum ]

-

Tidak semua koleksi foto atau gambar yang kita miliki dapat diperbesar, walaupun kita memaksakan diri untuk memperbesarnya maka akan terlihat buram ataupun pecah-pecah. Tentu saja ini membuat kita sedikit kecewa karena gambar yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan.
Ada sedikit solusi untuk mengatasi masalah tsb, anda tinggal memasang program Resize Imager pada komputer anda, dijamin gambar yang dihasilkan akan terlihat lebih baik meskipun  dalam ukuran besar.
Reshade resize image adalah sebuah software yang akan membantu anda untuk memperbesar gambar tanpa pecah dan tanpa menurunkan resolusi gambar tersebut. Software ini juga memungkinkan untuk membantu untuk melihat sebuaah objek yang terlihat kecil di dalam gambar kemudian diperbesar supaya terlihat lebih jelas.
-------------------------------------------------------------------
Cara install :
  1. Download file Reshade resize image dari link di atas
  2. Ekstrak file dan intall
  3. Setelah selesai, program jangan dijalankan dulu
  4. Copy file Patchnya dan paste ke tempat anda menginstal program
  5. Jalankan file patch ( Reshade Image Enlarger v1.51_Patch )
  6. Klik Crack it,lalu masukkan nama anda
  7. Selesai


INFO: Bagi sobat yg suka dgn Artikel saya silahkan share di facebook atau blog,Jika berkenan mohon cantumkan Link  sumber dari artikel yg sobat copy paste.Mari berbagi informasi yg bermanfaat.
Terima kasih


- -
Di daerah Fak-fak tepatnya, pegunungan Bumberi hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.

Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah. Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.

Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh di perutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu memastikan bahwa, ternyata sahabatnya (anjing betina) itu bunting.Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si perempuan tua itu segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya. Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki diberi nama: Kweiya.

Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu). Karenannya, Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Setiap kali, hutan lebat itu dihiasi dengan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan mengadakan kepulan asap itu.

Konon ada seorang pria tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Dia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Karena perasaan ingin tahu mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat. Pria itu berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki, akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.

Setibannya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam: “weing weinggiha pohi” (artinya selamat siang) sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohonpun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristerahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.

Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat melihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar. Dan karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.

Dalam perjalanan menuju rumah Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan, “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Sewaktu ada dalam rumah Kweiya berbuat seolah-olah haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk di makannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusaan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Serta-merta ibunya menjerik ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Harapan agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima baik pikiran anaknya itu dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.

Setelah beberapa waktu lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya dari hari ke hari hubungan persaudaraan antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri dari Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.

Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya sehingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri di salah satu sudut rumah sambil meminta tali dari kulit pohon “Pogak nggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang ditanyakan di mana Kweiya tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya berada. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar cerita itu si ibu tua merasa ibah terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi: “Eek..ek, ek, ek, ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncak di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.

Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu-sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalan itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengkar di atas pohon sambil berkicau dengan suara: wong, wong, wong, wong, ko,ko, ko, wo-wik!!

Dan sejak saat itulah burung cenderawasih muncul di permukaan bumi di mana terdapat perbedaan antara burung cenderawsih jantang dan betina. Burung cenderawasih yang buluhnya panjang di sebut siangga sedangkan burung cenderawasih betina disebut: hanggam tombor yang berarti perempuan atau betina. Keduanya dalam bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.

Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu meresa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik di bandingkan cenderawasih.

Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna buluh, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir buluh yang indah itu justru mendatangkan mala petaka bagi mereka. Dia berpikir suatu ketika orang akan memburuh mereka termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa kerena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah buluh. Kini Ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu, menjemburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur”.
---------------------------------------------
Sumber: Penyesuaian dari Depdiknas--Cerita Rakyat Papua, (1883;23-26)
Diceritakan Kembali Oleh: Ramses Ohee

Burung cenderawasih sangat indah dilihat, namun sangat sulit untuk didapatkan. Bulu burung cenderawasih yang halus memiliki daya tarik tersendiri untuk dimiliki. Bulunya yang berwarna putih dan kuning cerah sangat serasi dengan kombinasi warna coklat di bagian ekor.

Ada seorang ibu Ondofolo (istri dari Ondoafi) bernama Nolokom yang bertempat tinggal di kampung Yonorom di Kwadewareh, Sentani Timur yang sangat tertarik pada keindahan burung cenderawasih. Ia bermaksud menggunakan bulu burung cenderawasih untuk hiasan di kepalanya. Pada suatu hari, saat Ondofolo sedang mencari ikan di danau Sentani bersama-sama kaum ibu, ada seekor burung cenderawasih yang terbang rendah di atas perahu dengan suara yang indah. Kepak sayap cenderawasih yang lembut membuat burung itu melayang di angkasa, terbang rendah dan menukik, kemudian burung itu terbang menjauh ke arah gunung. Ondofolo hanya diam memandangi burung cenderawasih itu hilang dari pandangannya. Ondofolo diam agar tidak ada orang lain yang tahu tentang keinginannya. Terlebih lagi Ondofolo tidak mau ada orang lain yang lebih dulu menangkap burung cenderawasih itu daripada dirinya. Dalam diamnya Ondofolo memuji keindahan mahluk angkasa yang menjadi impiannya. Hari demi hari berlalu, Ondofolo semakin menginginkan burung cenderawasih itu berada di kepalanya. Ondofolo kemudian menyusun sebuah rencana.

Setiap hari kaum ibu di sekitar danau Sentani pergi mencari ikan menggunakan perahu dan jaring, tidak terkecuali Ondofolo. Setiap pagi Ondofolo menjala ikan di danau sampai hari menjelang siang. Hasil tangkapannya kemudian dimasak. Saat makan siang itulah Ondofolo memanggil para jago memanah yang sedang duduk-duduk di para-para adat tak jauh dari rumah Ondoafi- Ondofolo. Para jago panah di desa itu menerima perjamuan yang istimewa dari Ondofolo setiap hari. Hasil tangkapan ikan yang besar-besar selalu diolah menjadi masakan yang bervariasi. Pesuruh Ondofolo selalu diperintahkan mengundang jagoan-jagoan untuk makan siang dengan menu istimewa. Namun Ondofolo samasekali tidak menyampaikan apa maksud dan tujuannya kepada para jago panah itu. Sehingga timbul tanda tanya di hati para pendekar-pendekar panah, ada apa gerangan istri Ondoafi selalu masak papeda dengan ikan-ikan besar serta mengundang mereka. Ikan-ikan yang besar hasil tangkapan ibu-ibu lain juga terkadang diserahkan kepada Ondofolo untuk dimasak.

Apakah Ondoafi dan Ondofolo memiliki maksud tersembunyi atau menginginkan sesuatu dari masyarakatnya?. Pertanyaan para jago panah tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, Ondofolo hanya mengatakan tidak ada maksud apa-apa. Ondofolo menjawab bahwa ia hanya ingin mengundang makan para jago panah yang sedang duduk-duduk di balai adat. Begitu seterusnya. Para jago panah berhari-hari selalu diundang makan papeda dan ikan di rumah Ondoafi-Ondofolo tanpa mengetahui maksud di balik itu. Akhirnya para jago panah memutuskan untuk berkumpul di para-para adat dan sekali lagi menanyakan maksud Ondofolo yang sesungguhnya karena tidak mungkin Ondofolo menyediakan papeda dengan ikan-ikan besar setiap hari jika tidak ada maksud tertentu.

Ondofolo akhirnya menceritakan tentang apa yang selama ini menjadi idamannya. Segala yang ia lakukan selama ini semata-mata karena keinginannya memiliki burung cenderawasih yang berbulu indah. Terbukalah tabir bahwa Ondofolo mengharapkan para jago panah menangkap cebderawasih untuknya. Sejak melihat cenderawasih terbang rendah di atas danau, hatinya tak tenang karena takut burung tersebut telah dipanah oleh salah satu jago panah desa itu. Para jago panah pun sepakat untuk berusaha menangkap dan mempersembahkan seekor burung cenderawasih kepada Ondofolo untuk dijadikan hiasan kepala. Ondofolo sangat senang karena harapannya akan segera terwujud.

Para jago panah mulai melaksanakan tugasnya. Mereka pergi ke hutan dan ke gunung-gunung. Mereka mempelajari kebiasaan burung cenderawasih dari hari ke hari. Burung cenderawasih yang terbang dari ranting ke ranting, dari dahan ke dahan, dan dari pohon ke pohon selalu diawasi. Mereka mengetahui bahwa burung cenderawasih tidak pernah tertidur di dahan atau ranting pohon. Burung ini tidur di dalam pelepah pohon palem hutan yang menggantung. Saat hari berangkat senja, burung cenderawasih merayap naik, kemudian masuk ke sela-sela pelepah tersebut, menyembunyikan diri lalu tidur di situ. Orangtua-tua di kampung sudah memberitahu kebiasaan cenderawasih kepada para jago panah itu.

Saat burung cenderawasih memasuki pelepah pohon palem hutan, para jago panah sudah mengawasi dan bersiap-siap untuk menangkap. Mereka berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup karena dengan demikian para jago panah akan mendapat nilai plus sebab mampu menangkap burung cenderawasih dalam keadaan hidup. Sungguh kebanggaan yang luar biasa. Para jago panah menunggu dengan cemas. Setelah burung cenderawasih diperkirakan sudah tertidur pulas, naiklah seorang jago panah perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. Pelan sekali. Saat mencapai pelepah palem hutan yang berisi cenderawasih maka secepat kilat pelepah itu dikatupkan kemudian diikat erat. Burung cenderawasih kaget namun tidak dapat berbuat apa-apa karena kedua ujung pelepah palem hutan telah diikat erat oleh Sang Jago Panah. Ia pun turun dan langsung menyerahkan burung cenderawasih ke tangan Ondofolo yang telah menunggu dengan cemas di rumahnya.

Sejak saat itu Ondofolo mempersiapkan pesta besar untuk merayakan kebahagiaannya dengan penuh sukacita. Burung cenderawasih diawetkan. Ketika pesta tarian berlangsung Ondofolo memperlihatkan perhiasannya yang selama ini sangat ia impikan. Seluruh masyarakat terkagum-kagum melihat hiasan kepala sang Ondofolo. Sejak saat itu burung cenderawasih menjadi simbol budaya bagi masyarakat Yonorom dan semakin banyak orang yang berburu burung cenderawasih ke kampung ini. Kampung Yonorom di Kwadewareh hingga saat ini memang sangat terkenal dengan tanaman palem hutannya yang besar dan tinggi-tinggi. Hal inilah yang membuat para pemburu cenderawasih berdatangan dari segala penjuru negeri.


Sumber; Sastra Lisan Papua
TAHUN 1976, Ibukota menambah jumlah kelompok musik dengan grup 'Black Brothers'. Datang dari Irian Jaya, dengan manager Andy Ayamiseba, (32 tahun), disambut oleh studio Irama Tara dengan kontrak 3 album. Album kedua, berisi lagu Derita Tiada Akhir, sempat melejit -- terjual sampai jumlah 300 ribu. Sekarang Black Brothers sudah memasuki kontrak tahun ke-3 -- masih tetap dengan Irama Tara. Tak kurang 7 album sudah dirampungkan.
Dalam persipan album kedelapan, akan terdengar sebuah lagu bernama Memory -- dalam bahasa Inggeris. "Kita pernah bawa lagu itu di Bar Ankerage dan orang dengar kagum -- dikira lagunya Bee Gees yang baru," kata Andy membanggakan. Urusan Polisi Black Bro's sebenarnya tidak kepingin menjadi Bee Gees Indonesia. Putera-putera Irian yang rata-rata di bawah usia 26 tahun itu lebih memikirkan untuk menjadi 'Oshibisa' Indonesia.

"Karena saya ingin Black Bro's diterima sebagai band yang penuh sensasi dan selalu bisa tampil dengan keunikan," kata Andy lebih lanjut. Itu sebabnya ia banyak memusatkan fikiran pada segi-segi penampilan di samping mencoba menggali materi lagu-lagu daerah. Pada setiap album Black Bro's memang selalu dijumpai lagu daerah.

Pada albumnya yang ke-7 misalnya, bisa didengar Ino Mote Ngori. Yang banyak membantu adalah bahwa beat lagu asli Irian dekat dengan selera anak muda. Lagu-lagu tersebut mengandung jiwa kepahlawanan. "Tapi kami juga menyadari, bahwa musik kami terutama harus bisa diterima oleh rakyat -- musik untuk low-people, kata Andy kembali mewakili kelompoknya. Black Bro's lahir di Jayapura 1974, dengan anggota comotan sana-sini. Formasi pertamanya adalah Hengky MS (gitar dan vokal), Yockie Pattipeiluhu dan Benny Betay. Disempurnakan oleh David (sax), Stevie (dram), Amri Kohar (sax) dan Iskandar (terompet). Album ke-7 dikerjakan tanpa Henky dan David.
Album yang dinamakan 'Volume Perdana' itu berisi 14 buah lagu. Separuhnya lagu lama, manis, kompak dengan selera saat ini. Lagu berbahasa daerah Ino Mote Ngori ciptaan Amry Kahar yang dinyanyikan Stevie, hadir senafas dengan lagu-lagu lainnya. Di sini Black Brothers memadukan materi yang menyangkut latar belakang daerahnya dengan baik, tanpa terasa "kedaerahdaerahan". Meski identitas belum benar mencuat, tapi cara grup ini menjiwai lagu, menafsirkan sedih, cinta dan sebagainya, cukup berbeda dengan rekan-rekannya yang datang dari daerah lain.

Dalam lagu Derita Tiada Akhir ciptaan Yochie Phu, dinyanyikan Henky Ms, memang kita terpaksa ingat Panbers atau Mercy's tapi tidak jadi cengeng Dari tanah Irian ini barangkali kita boleh mengharap grup musik pop yang akan menyanyi dengan "jantan". Sumber Nafkah Lagu Huem Bello (anonim), yang dinyanyikan David bersama grup, merupakan contoh menarik. Lagu yang didominir pukulan dram ini bergelora dan menjerit. Dinyanyikan dengan total, liar, menimbulkan sensasi yang aneh -- misteri yang juga sering kita rasakan dari musik liar orang-orang negro, Amerika Latin atau dari pemusik rock berat.


Kalau saja Black Brothers memiliki banyak kesempatan menampilkan ekspresinya secara murni, sudah pasti ia akan merupakan duta Irian yang berhasil. Memang sulit -- sebab musik menjadi sumber nafkah, jadi harus selalu memperhatikan selera pembeli. Tapi Andy menjelaskan, Black Brothers akan tetap mempertahankan identitasnya sebagai band asal Irian. Sekwilda Irian Jaya pernah mengusulkan agar nama Black Brothers diganti jadi 'Cendrawasih Band'. "Alasannya agar tidak mengesankan keterbelakangan masyarakat Irian," kata Andy mendongeng. Tetapi usul itu kontan ditolak oleh Sutran, sang Gubernur. Andy sendiri percaya bahwa hitam yang memang warna kulit para pemain grup itu merupakan kebanggaan karena mengesankan kekuatan. Kostum asli yang sering dipakai di layar TV juga dianggap sebagai kebanggaan -- Jadi bukan paksaan untuk merek dagang.


-----------
Catatan;

Kisah dari tahun yang silam, sayang sa pu majalah sebagian di makan rayap, jadi ada beberapa bagian yang terpotong, tapi semoga maknya yang terkadung di dalamnya bisa jadi kaca buat kitorang.....

-