Slider
clean-5
Total Pageviews
Labels
- AMUNGME-KAMORO
- Animals
- BAHASA
- BERITA BOLA
- Biografi dan Tokoh Terkenal
- BOLLA
- Buah Hati
- CERITA RAKYAT
- COLECTION PHOTO
- Document West Papua
- DOK
- FORKOPMADE
- Free West Papua
- FREEDOM
- FREEPORT
- GENOCIDE
- History
- HISTORY WEST PAPUA
- Hukum dan Kriminal
- Indognesian
- INFO
- Kisah Inspirasi
- KNPB
- LAGU
- Melanesian
- Misteri Papua
- MULTIMEDIA
- MUSIK PAPUA
- National Geographic West Papua
- News photo
- PANA'S
- PANAS News
- PAPUA
- PELANGGARAN HAM
- PERSIPURA
- PNG-PASIFIK
- Profil
- PSSI
- PUISI
- RELIGIOUS AND TRUST
- SEJARAH
- SENI BUDAYA
- seputar papua
- SUKU DI PAPUA
- teknologi
- TIK
- TIPS and TRIK
- TPN-OPM
- VIDEO FREEDOM
- west Papua
Labels
- AMUNGME-KAMORO
- Animals
- BAHASA
- BERITA BOLA
- Biografi dan Tokoh Terkenal
- BOLLA
- Buah Hati
- CERITA RAKYAT
- COLECTION PHOTO
- Document West Papua
- DOK
- FORKOPMADE
- Free West Papua
- FREEDOM
- FREEPORT
- GENOCIDE
- History
- HISTORY WEST PAPUA
- Hukum dan Kriminal
- Indognesian
- INFO
- Kisah Inspirasi
- KNPB
- LAGU
- Melanesian
- Misteri Papua
- MULTIMEDIA
- MUSIK PAPUA
- National Geographic West Papua
- News photo
- PANA'S
- PANAS News
- PAPUA
- PELANGGARAN HAM
- PERSIPURA
- PNG-PASIFIK
- Profil
- PSSI
- PUISI
- RELIGIOUS AND TRUST
- SEJARAH
- SENI BUDAYA
- seputar papua
- SUKU DI PAPUA
- teknologi
- TIK
- TIPS and TRIK
- TPN-OPM
- VIDEO FREEDOM
- west Papua
Hukum dan Kriminal
Travel
Performance
‹
›
Cute
My Place
Slider
Racing
Videos
PAPUA-Kasus penculikan dan pembunuhan Alm. Dortheys Hiyo Eluay, Ondofolo Suku Sereh, Sentani, Port Numbay, Ketua LMA Papua, dan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) telah berlalu tepat sepuluh tahun silam. Kini kita telah berada di detik, menit, jam, hari Sang Ondofolo dibunuh dengan cara dicekik. Cara mencekiknya sangat mengerikan, sangat tidak manusiawi.
Kalau kita baca buku terlengkap yang pernah ditulis tentang riwayat hidup, dan terutama riwayat sebelum dan sesudah pembunuhannya sampai hari ini, yaitu karya Sem Karoba, Hans Gebze, dkk, terbiatan Mei 2002 (selang waktu beberapa bulan setelah alm. dibunuh), maka ingatan kita tentang peristiwa-peristiwa yang tidak lama itu segar kembali, lalu dengan mudah kita kaitkan dengan perkembangan terakhir di Tanah Papua, Ketua Dewan Adat Papua yang kini berada di tahanan NKRI.
Sem Karoba, dkk. mencatat banyak sekali peristiwa, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Yang belum ditulis ialah tahun demi tahun, yaitu dari tahun 2001 sampai tahun 2011 hari ini. Termasuk pengadilan ringan dan penobatan sebagai pahlawan negara kepada para pembunuh Theys tidak dimuat dalam buku ini karena buku ini terbit lebih dari tiga tahun sebelum pelaku kejahatan atas kemanusiaan ini ditahan dan diproses secara hukum militer NKRI sendiri.
Dari kasus penculikan sekaligus pembunuhan sang Pemimpin Besar Bangsa Papua itu sebenarnya perlu kita ingat dan camkan beberapa hal. Yang pertama, bahwa kasus ini tidak boleh dianggap telah berlalu oleh bangsa Papua. Ini pelanggaran HAM berat karena seorang pemimpin yang diangkat dalam sebuah proses demokrasi oleh sebuah bangsa dan tanah dibunuh begitu saja tanpa pertanggung-jawab politik dan hukum yang jelas. Dalam buku ini telah dengan jelas disampaikan mengapa kasus in imerupakan pelanggaran HAM berat. Hal kedua, karena para pembunuh tidak pernah mengakui dan meminta maaf kepada pihak korban sampai dengan hari ini tanggal 11 November 2011. Dapat dikatakan dalam bahasa adat Papua, "Ini pembunuhan rahasia", atau dalam bahasa Lani disebut "Kote warak." Orang yang dibunuh secara "kote" tidak pernah hilang dari ingatan orang Papua. Kalau ada pembunuhan, ada pengakuan, ada pertanggung-jawaban dalam bentuk hukuman atau denda, maka ingatan itu biasanya terkikis dimakan waktu. Tetapi kalau sebuah kematian, apalagi kematian seorang Kepala Suku, apalagi dibunuh setelah sebuah acara yang diadakan oleh NKRI, apalagi cara pembunuhannya sangat canggih dan sadis, apalagi dalam posisi beliau sebagai Kepala Suku sekaligus sebagai Ketua PDP, yaitu sebuah lembaga politik di dalam negeri yang menyambung suara dan aspirasi bangsa dan tanah Papua, apalagi pembunuhnya menyangkal mati-matian dan malahan mengancam siapa saja yang menuduh mereka sebagai pembunuhnya, apalagi pembunuhnya malahan dihadiahi gelar pahlawan negara Indonesia, soal pembunuhan Theys Eluay tidak bisa kita jadikan sebagai bagian dari sejarah.
Kasus penculikan dan pembunuhan Alm. Dortheys Hiyo Eluay bukan masalah kemarin, tetapi ini masalah hari ini, dan lebih-lebih masalah hari esok dan lusa. Itu yang harus diingat orang Papua. Pada setiap tanggal 11 November disetiap tahun, setiap orang yang merasa dirinya berasal dari dan dilahirkan di atas, hidup di dan akan dikuburkan ke Bumi Cenderawasih, sepatutnyalah berbuat sesuatu, yaitu sesuatu yang berarti dan bermakna bagi tanah leluhur dan bangsanya. Tidak menjadi soal Anda pendukung Otsus atau penentang, tidak masalah Anda pejabat di dalam pemerintahan NKRI atau penentang NKRI, Anda tetap ber-identitas orang Papua, yang dilahirkan, dibersarkan, hidup dan mati di tanah leluhur Bumi Cenderawasih. Oleh karena itu, kasus penculikan dan pembunuhan Ondofolo Dortheys Hiyo Eluay patutlah menjadi sebuah peristiwa November Kelabu, hari Kematian HAM, Demokrasi dan Supremasi Hukum di Tanah Papua.
Lihat saja apa yang telah terjadi sepeninggalan Theys. Hukum NKRI sendiri dilanggar habis-habisan oleh NKRI dan orang Indonesia sendiri. Lihat saja apa yang sedang terjadi di Era Otsus ini. Era Otsus ini kita sebuah era Post-Theys, era-Beanal, era-status-quo, era kematian sebuah bangsa, era kematian kedua setelah beberapa bulan kebangkitan nasional bangsa Papua waktu itu. Hitung saja berapa Pasal dan Ayat dari UU Otsus No. 21/2011 itu yang telah dilanggar, dan berapa yang tidak dilaksanakan sepenuhnya serta berapa yang sama sekali tidak dilaksanakan, jangankan dibicarakan. Makanya Efendy Choiri, salah satu tokoh Indonesia dari PBNU menyatakan dalam wawancara di TVOne menyatakan saat ditanya, "Berapa persen Otsus berhasil dan berapa persen Otsus gagal?" Beliau katakan secara cepat dan tegas, "Bukan gagal, memang Otsus tidak pernah dilaksanakan. Jadi tidak bisa dikatakan gagal, kalau tidak pernah dilaksanakan."
Kita pindah ke November Kelabu sebagai Hari Kematian HAM di Tanah Papua. Ingat saja minggu ini, minggu lalu, satu minggu lalu, dua minggu lalu, tiga minggu lalu, empat minggu lalu, sampai 10 minggu lalu sampai 100 minggu lalu. Hitung semua dan ingat kembali. Kata Indonesia kepada masyarakat internasional seperti ini,
Kasus-kasus pelanggaran HAM itu pernah terjadi. Kami menyesal itu pernah terjadi. Tetapi kasus-kasus itu terjadi di era yang lain, regime yang lain, era orde baru, regime Soeharto. Sekarang Indonesia ada di era reformasi, era demokratisasi, regime SBY-Kalla dan SBY-Budiono. Era ini era paling demokratis. Kami sangat mendengarkan suara rakyat Papua. Kami menangani soal Papua dengan hati, bukan dengan pikiran atau otak. Kami cintah Papua, yaitu tanah Papua, bukan orang Papua. Biarkan kami membangun orang-orang telanjang ini. Kalau mereka merdeka sendiri mereka akan melarat seperti teman-teman Melanesia di Tomor Leste yang barusan merdeka tetapi masih morat-marit dalam membangun ekonomi mereka. Apalgi orang Melanesia lain di Timur Pulau New Guinea, negara itu termasuk ke dalam negara sedang gagal, kemiskinan merajalela, kekerasan dan premanisme sangat tinggi. Jadi, kalau Papua Merdeka sendiri, pertumpahan darah jauh lebih parah dan sulit dijelaskan. Biarkan kami, orang beradab, orang pintar, orang modern yang membantu membangun bangsa minoritas, terbelakang, kanibal, zaman batu ini.
Biarpun ada saja orang Papua menuntut merdeka, tetapi kami sedang membangun demokrasi, jadi kami tidak akan bunuh mereka. Kami melakukan komunikasi konstruktiv dengan mereka....
Kemudian yang ketia, November Kelabu ini mengingatkan kita tentang hari kematian Demkorasi di Tanah Papua. Lihat saja apa yang terjadi saat KRP II, 2000 dibandingkan dengan yang terjadi dalam KRP III, 2011. Hitung jumlah orang, hitung dari mana saja yang datang, hitung di mana tempat penyelenggaraannya, hitung para tamu dan undangan yang hadir, hitung siapa saja dari pihak NKRI yang hadir dan yang mendanai kegiatan itu. Yang jelas, demokrasi sejak sepeninggalan Theys Eluay telah mati bersamanya.
Demokrasi sepeninggalan Theys Eluay ialah demokrasi yang mandul, karena demokrasi itu telah dikebiri, maka biarpun dia melakukan aktivitas kawin-mengawinkan, tidak bakalan melahirkan sesuatu, karena pada prinsipnya demokrasi di Tanah leluhur Theys Eluay, tanah yang deminya dia dibunuh itu, telah dikebiri.
Karena demokrasi itu telah mandul lantaran dikebiri, maka apapun proses demokratisasi yang sekarang ini terjadi, misalnya KRP III, 2011, pelaksanaan Otsus, dialogue, komunikasi konstruktiv, atau apapun juga, proses demokrasi sulit terjadi. Yang terjadi ialah lawan dari demokrasi, yang bertentangan dengan demokrasi: pelanggaran HAM, kehidupan tidak aman, teror dan intimidasi, penculikan, pengejaran, pengungsian karena pengejaran TNI/ Polri, pengintaian, sampai penembakan, peracunan, pembunuhan secara halus (bio-terrorism) dan pembunuhan dengan perusakan lingkungan tempat tinggal orang Papua (eco-terrorism).
Kalau demokrasi tidak telah dikebiri, jika perlindungan dan pemajuan HAM juga dibunuh, kalau supremasi hukum telah ditambal-sulam dan ditukar-tambah di sana-sini dan bolak-balik, maka jelas dan pastilah bahwa dengan demikian "Perjuangan Damai di Tanah Papua telah dimatikan!" Itulah kesimpulan yang telah terpapar dalam judul buku ini.
Riwayat pembunuhan tidak berakhir di sepuluh tahun lalu. Contoh terbaru kita lihat saat KRP III, 2011 diselenggarakan, pada saat Jaringan Damai Papua setengah mati dan bolak-balik mensosialisikan dan mempersiapkan dasar-dasar untuk mendorong Papua Zona damai, saat itulah, NKRI lewat presidennya sekali lagi menyangkal eksistensi, hargadiri, martabat dan kemanusiaan manusia Papua dengan segala perangka hukum yang telah disahkan Presiden Indonesia sepuluh tahun silam. Pada prinsipnya Presiden NKRI menyatakan, "Anda siapa? I Love Papua, not Papuans! I own Papua, not Papuans!" Yang ditulis dan disahkan Presiden NKRI tahun 2011 sudah banyak yang dilanggar, malahan yang tidak dilanggar hanya satu atau dua. Itulah sebabnya Efendy Choiri menyatakan, "Pertanyaannya bukan pada otsus gagal atau tidak, tetapi Otsus tidak pernah dijalankan." Hukum buatan NKRI dilanggar oleh NKRI sendiri. Apalagi hukum adat dan hukum-hukum yang pernah ada di tanah Papua? Pasti dan harus dilanggarnya atas nama NKRI Harga Mati, bukan?
Kalau kondisi penegakkan supremasi hukum masih seperti ini, kalau masih saja ada orang Papua ditahan tanpa peradilan dan tanpa proses hukum sesuai aturan yang dibuat NKRI sendiri, kalau masih ada orang dikejar-kejar, kalau masih ada penembakan di sana-sini tanpa pernah mengungkap para dalang dan pelaku perbuatan amoral dan kejam ini, maka siapakah orang Indonesia, orang Papua atau manusia di dunia yang bisa dibujuk untuk percaya bahwa NKRI hari ini sedang serius menangani Papua?
***
***
Sementara ketiganya telah mati bersama Theys, yaitu sepeninggalan mereka berempat, maka orang Papua sekarang semestinya berpikir ke depan, berpikir tentang kelanjutan perjuangannya, tentang Joshua bangsa Papua, tentang langkah berikut, mulai dari apa yang telah ditinggalkan Theys.
Yang ditinggalkan Theys, seperti diulas Sem Karoba, dkk. (2002), Bagian PAPUA MENGENANG, mulai Bab 9. ada 5 hal yang ditinggalkan Theys:
- Theys Ondolofo, Tokoh Integrasi dan Tokoh Papua Merdeka
- Theys Tokoh Adat Revolusioner
- Theys Tidak Ketinggalan Jaman Dalam Politiknya, Berperan Dalam Pentas Perjuangan Dunia Semesta
- Theys Adalah Musa Bangsa Papua
Apa artinya Theys Eluay yang awalnya membela NKRI lalu di akhir hidupnya bukan hanya membela tetapi malahan memimpin perjuangan Papua Merdeka? Almarhum sendiri pernah menjawabnya, "Karena ini waktunya! Sekarang saatnya untuk Papua Merdeka!" Di lain waktu juga beliau katakan, "Waktu itu Sukarno yang mencapok negara dan Tanah Papua ke dalam NKRI!" Jadi, dengan kata lain, beliau yakin bahwa waktunya telah tiba bagi bangsa Papua untuk memperjuangkan pengembalian kedaulantannya yang telah diinjak dan diperkosa oleh NKRI. Dalam banyak wawancara almarhum ditawari paket Otsus, tetapi selalu beliau menolak dengan alasan Papua sudah merdeka, sekarang hanya minta pengembalian kedaulatan yang telah dicaplok oleh NKRI.
"PDP tetap akan melakukan upaya lobi sampai tercapai dialog, baik nasional maupun internasional. Ini kami lakukan agar Indonesia secepatnya mengembalikan hak bangsa Papua seperti sebelum 1 Desember 1961, yaitu hak untuk merdeka, yang dicopot oleh Sukarno dengan Operasi Trikora. Waktu itu, Bung Karno menyatakan operasi tersebut untuk membubarkan negara boneka Papua. Padahal yang sebenarnya ada adalah Negara Papua, bukan negara boneka Papua. Orang Papua sudah berdiri sendiri. Papua sudah merdeka."
Theys Hiyo Eluay: "Hak (Papua) Merdeka Dicopot Sukarno" , TEMPO, No. 38/XXX/19 - 25 November 2001 [http://papuapost.com/?p=5113]
Theys memang tokoh adat revolusioner. Dalam buku Sem Karoba, dkk. digambarkan sejumlah orang revolusioner di berbagai belahan Bumi dan menempatkan almarhum Theys Eluay berdekatan dengan Abdurrahman Wahid dan Nelson Mandela. Gus Dur dari sisi kontrovesi yang selalu ditimbulkannya dari apa yang diucapkan dan yang dilakukannya, serta Mandela dari aspek Kepala Suku dan pengorbanan yang mereka berikan dalam posisi sebagai Kepala Suku. Lebih khusus lagi, kedua Kepala Suku ialah orang-orang modern yang moderat, pemikirannya sangat maju, beradab dan merangkul semua pihak. Jadi, perluangan Papua Merdeka yang dilakukannya bukan karena Theys membenci orang Indonesia. Sama sekali tidak. Theys punya banyak sekali penggemar dan sahabatnya di Indonesia. Yang ditentangnya ialah negara Indonesia, bukan orang Indonesia. Maka itulah perjuangan yang dikedepankannya ialah perjuangan damai, sopan-santun dan demokratis.
Karena ketokohannya yang revolusioner itu, beliau hampir saja ditempatkan sebagai tokoh adat yang revolusioner, yaitu pemain politik global yang berasal dari tokoh adat. Agenda terpenting dan yang tidak mudah dilupakan yang pernah ia sampaikan kepada Wartawan Majalah Tempo beberapa minggu sebelum almarhum dibunuh saat beliau ditanyakan "Apa program pertama yang hendak dilakukan di pentas politik global seusai Papua Merdeka?" maka almarhum katakan,
"Saya akan berkampanye ke seluruh dunia, mengusulkan agenda ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, membangun aliansi ke seluruh dunia untuk menutup semua pabrik-pabrik senjata dan diganti dengan pabrik makanan."
Sebuah pandangan yang sangat menarik. Tidak mungkin SBY membayangkan itu, malahan SBY mau membangun pabriks senjata di Indonesia. Tidak ada seorangpun Presiden negara-bangsa merdeka dan berdaulat hari ini yang punya agenda seperti itu, kecuali Theys Hiyo Eluay. Agenda itu tertinggal untuk orang Papua, generasi penerus, entah siapa menjadi penggantinya nanti, untuk meneruskan program yang telah disampaikannya dimaksud. Penerus perjuangannya berarti juga penerus agendanya, baik agendanya untuk tanah air dan bangsanya, dan juga untuk sekalian manusia dan planet Bumi.
Itulah pemikiran Alm. Theys Eluay yang berkaliber internasional, seorang tokoh adat yang revolusioner, seorang yang tahu diri dan tahu waktu kapan harus berbicara dan berjuang untuk Papua Merdeka, seorang yang tahu akan mati sebelum perjuangan yang dipimpinnya itu tuntas.
Itulah sebabnya Alm. Theys Hiyo Eluay pernah katakan seperti diutarakan Thaha Moh. Al-Hamid dalam Sambutan Pengantar dari Buku dimaksud,
"Untuk selamanya Theys telah pergi dalam jeritan seribu jiwa, tetapi semangat dan kesadaran perjuangan kini bersemayam di kalbu setiap anak Papua, sebagaimana ia bersaksi tatkala kami berlima menyantap hidangan tahun baru 2001 di bilik penjara Abepura: “perjuangan harus jalan terus, darah dan nyawa saya akan mengantar orang Papua ke gerbang kemerdekaan”.
Jadi, beliau tahu persis, bahwa ia akan mati, dan kedua bahwa dengan kematiannya itu akan mengantar bangsanya ke gerbang kemerdekaan. Demikianlah Musa sampai ke Gunung Sinai, dan memandang jauh ke Tanah Kanaan, tanah Perjanjian Allah, tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah, tanah yang untuknya Musa telah menghadap Firaun berkali-kali di Mesir, yang menyebakan banyak tulah bagi kaum penjajah, yang memaksa bangsa pilihannya keluar dari penjajahan dan perbudakan, yang dalam perjalanannya dipenuhi jerih-payah. Di gunung itu, Musa hanya diizinkan untuk memandang ke Tanah Kanaan, dan pada saat memandangnya, ia melihat gambaran janji-janji Tuhan itu telah tergenapi. Tetapi sayang, ada alasan dan ada sebabnya, Musa sendiri tidak diperbolehkan menyeberang Sungai Yordan. Dia harus tinggal di sebelah Sungai Yordan. Tujuan Musa membawa keluar bangsanya dari perbudakan dan penjajahan telah tercapai, tetapi Musa sendiri tidak ikut secara fisik masuk ke Tanah Kanaan. Itulah yang dikatakan Theys Eluay kepada Thaha Al-Hamid, bukan?
***
Yang pertama telah digenapi, yaitu Musa memang harus mati, tidak ikut masuk ke Tanah Kanaan. Itulah sebabnya kita peringati hari ini sebagai tahun ke sepuluh dari peristiwa itu. Sekarang kita menantikan hal kedua yang ditinggalkannya untuk digenapi, yaitu sudah 10 tahun bangsa ini menunggu Joshua untuk berdiri di tengah-tengah bangsanya di Tanah leluhurnya, meneruskan tongkat estafet yang ditinggalkan Theys Eluay, menyeberangi Sungai Yordan, membasmikan secara tuntas semua musuh yang menghuni wilayah itu, dan mendiami Tanah Perjanjian itu. Sudah 10 tahun bangsa Papua tinggal tanpa pemimpin. Sudah 10 tahun sudah bangsa ini menantikan para pembunuh hak kebangsaan dan hak hidup orang Papua angkat kaki dari tanah leluhur orang Melanesia di bagian barat Pulau New Guniea. Sudah 10 tahun para pembunuh Musa Papua itu tidak pernah diungkap secara tuntas dan bertanggungjawab.
- Apakah 11 tahun ini artinya hanya sebuah bilangan ganjil yang bisa saja berlalu tanpa arti apa-apa?
- Apakah Kongres Rakyat Papua III, 2011 membuka jalan ke arah itu?
- Apakah Jaringan Damai Papua dengan agenda dialoguenya merupakan jalan ke arah itu?
- Apakah KNPB dan jaringannya mengarah ke sana?
- Apakah ILWP/IPWP dan segala gerakannya menunjukkan titik terang ke arah sana?
- Apakah itu...? ? ?
***
*Oleh Sem Karoba, salah satu dari penulis buku: PAPUA MENGGUGAT: Penculikan dan Pembunuhan Ondofolo Dortheys Hiyo Eluay - Hari Kematian HAM, Demokrasi dan Supremasi Hukum di Tanah Papua", terbitan w@tchPAPUA - GalangPress.
Free West Papua - History - PAPUA
SEBUAH peristiwa ritual yang dirayakan oleh masyarakat Debey di Tadouto pada tanggal 9 Mei merupakan suatu perayaam tahunan yang selalu diperingati oleh warga setempat. Pesta ritual itu memperingati seorang tokoh Totamana yang mengajarkan Firman Tuhan sebelum para misionaris menapaki wilayah Mee (Paniai).
Sebut saja Wodeyokaipouga muncul dengan kegagahan alamiah dalam mengajarkan Totamana di kampungnya. (Tadauto). Sekalipun secara resmi belum dikenal sebab sejak ia memulai ajar ajaran Totamana itu tidak pernah keluar. Dan seluruh ajarannya merupakan hasil hubungan dengan alam setempat.
Dia mengajarkan totamana firman Allah. Totamana artinya firman Allah yang berakar dari alam. Wodeyokaipougaa mengenal firman Allah tidak melalui sebuah pendidikan resmi, atau oleh para misionaris ataupun pendidikan bentuk lain. Ini sebuah kisah yang belum dicatat oleh khalayak umum namun oleh masyarakat setempat memahami dan apa yang dilakukan sejak kala adalah ajaran Allah yang disepernukan oleh Firman melalui para misionaris.
Menurut kak Kandung Bobamoye Bobii yang adalah saksi mata mencerita kisah yang dilakukan oleh kakak kandung Wodeyokapouga, bahwa sejak dilahir dia memiliki keunikan. Banyak tanda-tanda yang dapat kita jumpa dikalah itu. Bahkan ketika berumur 3 tahun hilang selama 5 malam. Orangnya bersama sanak saudara beserta masyarakat dikampung itu mendapatkannya dalam rerumputan. Selang setahun kemudian ia berkembang dan melakukan berbagaikegiatan yang intinya adalah mengajarkan firman Allah versi budaya. Berbagai kegiatan itu diajarkannya. Di wilayah Deiyai bahkan pada umumnya di Paniai agama bisa dikenal setelah masyarakat Mee dahulu mengenal Firman melalui ajaran-ajaran versi budaya.
Banyak tokoh agama yang bisa dikenal di wilayah Deiyai (Tigi) semisal, Zakeus Pakage, Karel Gobay (paniai) dan beberapa tokoh lainnya, namun mereka dikenal setelah pergi bersama para misionaris disekolahkan luar Papua. Sedangkan Wodeyoka tidak hanya melalui hubungan intim dengan Allah. Selain itu tokoh yang belum dikenal ini selama melakukan ajarannya tidak pernah menemui para misionaris baik Katolik ataupun Zending.
Perjalanan peringatan ini sudah dan selalu dirayakan secara keluarga. Ada faktor alasan bagi keluarga untuk peringatan itu terbatas. Namun sejak 2 tahun lalu mulai dikenal. Bahkan berbagai kalangan berdatangan untuk menyaksikan peristiwa itu. Keunikan dilakukan itu dapat dilihat dalam beberapa aspek, pertama aspek kebersamaan. Persatuan dan kesatuan keluarga besar Tadouto dapat dilihat dalam berbagai kegiatan, diantaranya mereka memiliki kelompok Perikanan, Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, kebersihan, perekonomian, dan kebersihan. Semua aspek ini diketuai oleh masing-masing ketua, bahkab hari kerja telah terjadwal. Setiap hari yang telah ditentukan diwajibkan untuk memgambil bagian dalam kebersamaan.
Selain itu bidang keagamaan (Totamana) diajatkan ayat-ayat hafalan, lagu-lagu rohani, serta mereka mengenal Allah sekalipun dikalah itu misionaris belum menapaki wilayah itu. Kenangan dalam perayaan itu kita simak dalam drama yang diperagakan oleh masyarakat setempat. Dalam drama itu mereka mengisahkan perjalanan ajaran hingga Wodeyoka Bobii diolok-dieluk-elukan oleh para serdadu Belanda. Tidak hanya oleh serdadu akan tetapi sebagian besar warga sekitarnya menamakannya sebagai pengajar ajaran sesat. Hal itu wajar dinilai demikian pasalnya pada waktu itu belum mengenal atas ajaran Allah yang oleh Wodeyoka .
Peristiwa yang dapat kita memaknai adalah ke-tokoh-annya belum dikenal. Namun oleh warganya (famili) tidak mau di publikasikan sebab, menurut marga Bobii memaknai bahwa ajaran Totamana adalah peristiwa yang sakrar.
Sumber : http://deiyaikab.go.id
History
Konflik Papua yang berkepanjangan tentu menimbulkan pertanyaan tersendiri, mengapa kekerasan ditanah yang bergelimang emas dan uranium tersebut tidak terselesaikan? Beberapa hal krusial itulah yang dibedah dalam diskusi "Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat" di Aula UKI, Cawang Jakarta, Jumat (14/9).
Diskusi yang mengambil tema dari sub-judul buku "Pemusnahan Etnis Melanesia" karya Pendeta Socratez Sofyan Yoman tersebut dihadiri oleh sosiolog Tamrin Amal Tomagola, mantan Menko-ekonomi Rizal Ramli, anggota DPR Yoris Raweyai dan Direktur Imparsial Poengky Indarti.
Pendeta Socratez dengan tegas dalam pernyataannya menyatakan bahwa kekerasan yang dialami rakyat Papua sudah terlalu banyak. "Kami tidak diperlakukan sebagai manusia. Martabat kami direndahkan. Konflik-konflik di Timika itu diciptakan. Ada OPM yang memang sengaja dipelihara oleh tentara. Konflik Papua diciptakan, dipelihara dan dibiarkan," ungkapnya.
Pimpinan Gereja Baptis Papua ini juga mengharapkan bahwa pemerintah mau peka dan mendengar secara langsung jeritan hati masyarakat Papua yang telah lama tertindas dan dikucilkan dari keadilan. Dari bukunya tersebut juga, Pendeta Socratez berharap ada perubahan yang akan terjadi. "Buku ini hanya lilin kecil dari tanah Papua. Namun harapan saya, lilin kecil ini dapat menjadi penerang bagi hati nurani bangsa."
Buku "Pemusnahan Etnis Melanesia" karya Pendeta Socratez Sofyan Yoman pernah dibreidel oleh Kejaksaan Agung karena dianggap membahayakan, meski kembali beredar hingga kini. Dalam buku tersebut Pendeta Socratez menuangkan dan mencatat fakta-fakta kekerasan yang terjadi di Papua, yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
Lebih daripada keinginan untuk melawan negara, Pendeta Socratez dalam bukunya tersebut justru mengingatkan kepada negara, bahwa ada ketidakadilan terjadi di Papua. Masyarakatnya terbelakang, hidup menjadi tamu ditanah sendiri, sementara sumber daya alam mereka tidak bisa mereka nikmati, akibat arogansi dan ketamakan pemerintah yang bekerjasama dengan pihak asing untuk mengeksploitasi tanah Papua.
Sumber : www.jawaban.com
PAPUA
Cantik sering kali didefinisikan dengan kulit yang putih, dan rambut yang lurus. Sangat menyedihkan sekali anggapan seperti ini ternyata sudah menjadi paradigma sebagian besar masyarakat Indonesia. Seolah masyarakat di Indonesia lupa bahwa ada Ras Etnis di Indonesia yang bukan hanya melayu, tetapi juga Melanesia yang ada di Indonesia bagian Timur. Yang lebih ironi adalah kebanyakan Produk Produk kecantikan yang ada di media periklanan selalu menekankan bahwa kulit yang Indah adalah kulit Putih, Rambut lurus dan panjang, entah hanya untuk mempromosikan agar produk mereka dapat diterima dan di konsumsi oleh masyarakat indonesia atau mereka TIDAK TAU bahwa kulit hitam dan rambut keriting juga memiliki nilai keindahan dan keunikan yang dapat jadi kebanggaan setiap orang yang memiliki nya. Sadar atau tidak jarang sekali ada iklan kecantikan di Media yang membanggakan kulit Hitam, yang sering kita lihat adalah Produk produk untuk memutihkan kulit dan seakan kalau wanita memiliki kulit hitam sangat jelek dan tidak enak di pandang sehingga harus berusaha agar mendapatkan kulit yang putih bercahaya dengan produk yang mereka tawarkan.
Sebagai orang Papua saya sangan sedih sekali melihat hal ini karena secara tidak sengaja melalui berbagai Iklan iklan di media telah menanamkan suatu pengertian di benak masyarakat Indonesia bahwa Kulit yang Indah adalah kulit Putih. Hampir tidak pernah ada iklan yang menawarkan produk dengan cara membanggakan kulit yang hitam atau sawo matang dan juga rambut keriting atau Ikal, akirnya banyak dari masyarakat Indonesia sangat mengindahkan kulit putih dan mendiskriminasikan kulit hitam. Mereka lupa bahwa di bagian timur termasuk Papua dan maluku juga termasuk wilayah Indonesia dengan ciri khas kulit dan rambut yang berbeda. Secara tidak sadar ini termasuk Diskriminasi bagi masyarakat Indonesian bagian Timur dan dampaknya sangat besar dalam kehidupan Sosial.
sedikit info tentang kelebihan kulit Hitam.
- membuat kulit terlihat lebih sehat
- mampu melindungi kulit dari sinar UV yang bisa meningkatkan resiko kanker kulit
- Lebih terlihat awet muda
- Lebih terlihat Sexi dan Eksotis
Jadi bagi seluruh teman teman, saudara-saudaraku masyarakat Papua, mari belajar untuk bersyukur atas pemberian yang sudah Tuhan kasi bagi kita secara pribadi dengan menjaga keaslian Kulit dan rambut kita.
Hitam Kulit Keriting Rambut itu kebanggan kita, keunikan kita, jati diri kita. Jadi tidak perlu ikut perkembangan dunia yang tidak mendidik. Tidak perlu memutihkan kulit dengan produk pemutih tapi rawatlah kulit kita agar tetap mengkilau dengan warna kulit melanesia kita, juga tidak perlu meluruskan rambut hanya untuk terlihat lebih cantik dan menarik tetapi pertahankan keunikan kita dengan rambut yang keriting ini.
HITAM KULIT KERITING RAMBUT AKU PAPUA
Free West Papua
( Pegedy )
Free West Papua
( Pegedy )
Melanesian - PAPUA
Tanah Papua sering kali disebut dengan bumi cendrawasi, banyak versi cerita asal usul mengapa tanah papua dipanggil dengan sebutan nama Bumi cendrawasih, secara umum panggilan atau sebutan itu ada dikarenakan ciri khas khusus dari tanah papua ialah Burung Cendrawasih, selain itu juga yang paling membagakan adalah bentuk pulau yang berbentuk seperti seekor burung besar yaitu burung cendrawasih.
Selain menjadi salah satu Pulau terbesar Papua juga memiliki keunikan tersendiri yaitu papua terdiri lebih dari 255 Suku dengan bahasa yang berbeda beda,
Salah satu senjata tradisional di Papua adalah Pisau belati. Senjata ini terbuat dari Tulang kaki burung cendrawasih kasuari dan bulunya menghiasi hulu Belati tersebut. senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah Busur dan Panah. Busur tersebut dari bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat dari bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang.
Selain bentuk pemerintahan Nasional papua juga masi membudayakan sistem Pemerintahan Tradisional, bahkan sampai saat ini sistem adat ini masi dipertahankam oleh masyarakat adat di Papua. Kepala Suku atau Ondowavi adalah panggilan terhadap orang yang diPercaya sebagai pemimpin satu daerah, setiap daerah di papua memiliki kepala suku atau Ondowavi nya masing - masing, biasanya orang yang dijadikan ondowavi adalah orang yang punya wibawa,orang yang memiliki tanah yang cukup luas, atau dipilih berdasar keturunan.
Sistem Pemerintahan tradisional yang masi ada di Papua bukan karena papua masi kuno atau terbelakang, hal ini di pertahankan sebagai salah satu Sistem adat istiadat yang telah menjadi salah satu dari Kebudayaan di Papua maupun warisan adat dari para leluhur.
( Pegedy )
PAPUA
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)




+-+Salin.jpg)
Recent Comments